Senin, 12 Maret 2012

BAGAIMANA TERJADINYA SUMBER AIR ZAM - ZAM


Ibrahim  mengambil  kendali hewan tunggangannya. Dengan
air mata, ia memohon diri kepada  tanah  Mekah,  Hajar,
dan putranya. Tetapi, tak berapa lama kemudian, makanan
dan minuman yang dapat diperoleh  si  anak  dan  ibunya
habis,  dan air susu Hajar pun kering. Kondisi putranya
mulai merosot. Air mata mengucur dari ibu yang terasing
itu  dan  membasahi  pangkuannya.  Dalam  keadaan  amat
bingung, ia bangkit berdiri lalu pergi ke bukit  Shafa.
Dari sana ia melihat suatu bayangan dekat bukit Marwah.
Ia pun lari  ke  sana.  Namun,  pemandangan  palsu  itu
sangat mengecewakannya. Tangisan dan keresahan putranya
tercinta menyebabkan ia lari lebih  keras  ke  sana  ke
mari.  Demikianlah,  ia berlari tujuh kali antara bukit
Shafa  dan  Marwah  untuk  mencari  air,  tetapi   pada
akhirnya  ia  kehilangan  semua  harapan,  lalu kembali
kepada putranya.

Si anak tentulah telah hampir sampai pada nafasnya yang
terakhir.  Kemampuannya  meratap  atau  menangis  sudah
tiada.  Namun,  justru  pada  saat  itu   doa   Ibrahim
terkabul.  Ibu  yang  letih  lesu itu melihat bahwa air
jernih telah mulai keluar dari bawah kaki Isma'il. Sang
ibu,  yang  sedang menatap putranya dan mengira ia akan
mati beberapa saat lagi, merasa sangat gembira  melihat
air  itu. Ibu dan anak itu minum sampai puas, dan kabut
putus asa  vang  telah  merentangkan  bayangannya  pada
kehidupan   mereka   pun   terusir  oleh  angin  rahmat
Ilahi.(lihat Tafsir al-Qummi, hal. 52; Bihar  al-Anwar,
II, hal. 100).

Munculnya  sumber air ini, yang dinamakan Zamzam, sejak
hari itu, membuat burung-burung air terbang di atasnya,
membentangkan   sayapnya  yang  lebar  sebagai  penaung
kepala  ibu  dan  anak  yang   telah   menderita   itu.
Orang-orang  dari  suku  Jarham, yang tinggal jauh dari
lembah ini, melihat burung-burung yang  beterbangan  ke
sana  ke mari itu. Mereka lalu menyimpulkan bahwa telah
ada air di sekitarnya. Mereka mengutus dua orang  untuk
mengetahui keadaan itu. Setelah lama berkeliling, kedua
orang itu sampai ke  pusat  rahmat  Ilahi  itu.  Ketika
mendekat,  mereka  melihat  seorang  wanita dan seorang
anak sedang duduk di tepi suatu  genangan  air.  Mereka
segera  kembali  dan  melaporkan  hal  itu  kepada para
pemimpin sukunya. Para anggota suku itu segera memasang
kemah  mereka di sekitar sumber air yang diberkati itu,
dan Hajar pun  terlepas  dari  kesulitan  dan  pahitnya
kesepian yang dideritanya. Isma'il tumbuh sampai dewasa
sebagai pemuda yang ramah.  Ia  pun  mengadakan  ikatan
perkawinan  dengan wanita suku Jarham. Dengan demikian,
ia beroleh  dukungan  dan  menjadi  anggota  masyarakat
mereka.  Oleh  karena  itu,  dari  sisi  ibu, keturunan
Isma'il berfamili dengan suku Jarham.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar